Perawan Di Sektor Selatan (1971)

film jadul Perawan Di Sektor Selatan
Sinopsis film Perawan Di Sektor Selatan
Karena sakit hati akan perlakuan gerilyawan republik hingga ibunya meninggal, Laura memihak Belanda dan diselundupkan sebagai mata-mata ke pasukan Kapten Wira (Kusno Sudjarwadi) di Sektor Selatan, suatu daerah pedalaman terpencil. Pasukan Laskar Rakyat ini selalu merepotkan Belanda. Laura menyamar sebagai Fatimah dan mengaku kakak anggota Laskar yang ditawan Belanda. Ia berhasil membuat diperebutkan beberapa anggota Laskar, sementara antara Wira dan Kobar (Lahardo), juga terjadi pertentangan karena sikap Kobar yang main babat, senang perempuan dan berjudi. Konflik ini memuncak dengan pengepungan Kobar atas markas Wira. Melihat situasi ini, lewat penghubungnya Laura mengundang pesawat Belanda menyerbu dan membebaskan ahli perang urat syaraf yang ditawan Wira. Merasa diketahui penyamarannya, Laura lari dan akhirnya tewas di pelukan Rengga (Dicky Zulkarnaen), anggota Laskar yang dicintainya. Laura yang jadi titik sentral cerita, paling lengkap informasinya, yang disampaikan dengan cara sorot balik pada adegan-adegan penting. Sorot balik ini diungkapkan dalam warna coklat tua. Secara keseluruhan film ini seperti sebuah reportase.

Produser : Mohamad Chatab
Sutradara : Alam Surawidjaja
Penulis : Alam Surawidjaja, Giri Kolopaking
Pemeran : Farida Syuman, Dicky Zulkarnaen, Kusno Sudjarwadi, Lahardo, Budi Schwarzkrone, Pong Harjatmo, Fred Wetik, Herlina, Giri Suprapti, Ktut Suwita
Produksi : PT Rolleicon Films (1971)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : fokusjabar.com


Johny Indo (Kisah Nyata Seorang Narapidana) - 1987

film Johny Indo jadul
Sinopsis film Johny Indo (Kisah Nyata Seorang Narapidana)
Johny Indo (Johny Indo) adalah perampok terkenal. Ia tertangkap dan dipenjarakan di Nusa Kambangan. Bersama Johny, ikut dipenjarakan pula Pardi (Mathias Muchus). Selang beberapa waktu 34 napi itu, termasuk Johny, bermaksud melarikan diri. Pelarian mereka melewati hutan lebat serta hambatan alam sukar lainnya. Pihak berwajib memburu-buru mereka. Korban tak terelakkan. Johny tertembak kakinya. Saat hendak lari lagi, wajah istri dan anaknya terbayang, maka Johny menyerah.

Produser : TK Gunawan Prihatna
Sutradara : Jimmy Atmaja
Penulis : Frank Rorimpandey, Jimmy Atmaja
Pemeran : Johny Indo, Mathias Muchus, Minati Atmanegara, Yunus Takara, Sigit Tayu
Produksi : PT Tobali Indah Film (1987)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : indonesianfilmcenter.com


Bangunnya Nyi Roro Kidul (1985)

Film Suzanna Bangunnya Nyi Roro Kidul
Sinopsis film Bangunnya Nyi Roro Kidul
Ario, Yusak, dan Dudi adalah mahasiswa yang ingin mengecek tabir misteri Nyi Roro Kidul di Laut Selatan. Mereka menyelam jauh ke dasar samudera. Yusak menemui keanehan, yakni menemukan sosok mayat wanita cantik. Mayat itu kemudian dibawanya ke darat dan dapat kembali hidup. Yusak lalu tergiur dengan kecantikannya, tetapi dia mati misterius dalam pelukan gadis cantik itu. Wanita cantik itu gentayangan ke mana-mana dan membuat masyarakat resah dan ketakutan. Suatu malam rumah Ario dirampok oleh Marko dan komplotannya. Dalam perampokan itu seorang gadis bernama Neneng ikut membantu. Berkat bantuan Wieke, seorang wartawati, polisi dan Ario dapat melacak Marko cs dan membekuknya. Neneng lolos dan tetap menjadi misteri.

Produser : Ram Soraya
Sutradara : Sisworo Gautama
Penulis : Naryono Prayitno, Tim Soraya Intercine Film
Pemeran : Suzanna, George Rudy, Nena Rosier, Dorman Borisman, Johny Matakena
Produksi : PT Soraya Intercine Film (1985)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : perfilman.pnri.go.id


Ira Maya Putri Cinderella (1981)

film jadul Ira Maya Putri Cinderella
Sinopsis film Ira Maya Putri Cinderella
Putri Cinderella melahirkan bayi mungil perempuan. Baginda Raja ayah bayi itu memberinya nama Ira Maya. Pesta besar untuk kelahiran bayi dihadiri Raja Tetangga yang berencana menjodohkan bayi itu dengan putranya. Suasana pesta tiba-tiba menjadi kacau dengan munculnya Peri Jahat yang memberi kutukan bahwa Ira Maya akan mati bila tertusuk jarum. Ini sebenarnya karena hasutan Ibu Tiri yang ingin merusak kebahagiaan Putri Cinderella. Maka untuk menghindari usaha jahat itu Ira Maya diasuh dan dibawa ke hutan oleh empat Peri Baik.

Tempatnya berpindah-pindah, karena Peri Jahat selalu memburunya, dan namanya pun diganti dengan Mawar. Ketika Mawar sudah mulai besar, ia bermain di air terjun dan bertemu dengan seorang pemburu. Mereka lalu mengikat persahabatan. Mengetahui hal itu para Peri Baik menjelaskan, siapa sebenarnya Mawar. Menjelang usianya ke 17 tahun Ira Maya dengan keempat Peri Baik kembali ke istana. Namun Ibu Tiri dan Peri Jahat masih saja ingin menyengsarakannya, bahkan memburu Si Pemburu yang sebenarnya anak Raja Tetangga.

Produser : Sabirin Kasdani, Gope T Samtani
Sutradara : Willy Wilianto
Penulis : Imam Tantowi, Maria Tanzil
Pemeran : Ira Maya Sopha, Paulina Djakman, Rudy Salam, Gordon Subandono, Linda Karim, Ruth Pelupessy, Chris Salam
Produksi : PT Rapi Film (1981)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : indonesiancinematheque.blogspot.com


Macan Terbang (1977)

film jadul macan terbang
Sinopsis film Macan Terbang
Ketika Surya Subrata meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, Pranajaya, mantan asistennya mengurus pabrik pengecoran logam yang tengah berkembang, sambil menanti kepulangan pewaris sahnya, Roni, anak Surya yang baru belajar di luar negeri. Ketika pulang, dalam perjalanan dari bandara, Roni berkelahi dengan berandal-berandal yang sengaja memancing permusuhan. Roni yang kemudian tahu bahwa ayahnya mati tak wajar, lalu mulai menyelidik. Dalam penyelidikan itu Roni selalu didampingi sekretaris Pranajaya, Shinta. Akhirnya ketahuan dalang peristiwa itu adalah Pranajaya.

Produser : Dhalia Panca
Sutradara : Indra Wijaya
Penulis : Darto Joned
Pemeran : Muni Cader, Shin Ill Yong, Yatie Octavia, Aminah Cendrakasih, Brigitta Maria, Dolf Damora
Produksi : Budi Budhaya Film (1977)

sumber : filmindonesia.or.id

Janur Kuning (1979)

film janur kuning
Sinopsis Film Janur Kuning
Kisah peperangan di Yogya yang kemudian terkenal dengan sebutan Serangan Umum 1 Maret, yang melibatkan banyak tokoh yang kemudian berjasa, seperti Soeharto dan Sudirman. Film kolosal ini mengetengahkan perjuangan fisik di sekitar penyerbuan lapangan udara Maguwo oleh Belanda, dan perebutan kota Yogya yang dipimpin oleh Letkol Soeharto. Tokoh inilah yang menjadi tokoh sentral dan banyak diceritakan perannya dalam perang itu. Namun, ia tak sampai menjadi tokoh utuh, karena karakternya disampaikan hanya satu sisi saja. Film panjang ini lebih bersifat dokumentasi.

Produser : Abbas Wiranatakusuma
Sutradara : Alam Surawidjaja
Penulis : Syafnizal Durab, Arto Hady
Pemeran : Kaharuddin Syah, Deddy Sutomo, Dicky Zulkarnaen, Dian Anggrianie D, Nuniek Kardjono
Produksi : PT Metro 77 (1979)

sumber : filmindonesia.or.id

Tiada Seindah Cintamu (1977)

film jadul TIADA SEINDAH CINTAMU
Sinopsis Film Tiada Seindah Cintamu
Kisahnya bagai dongeng. Pemuda cacat dan buruk rupa berjodoh dengan gadis buta. Dongeng berlanjut dengan meleknya si gadis, setelah sang pemuda menjual seluruh hartanya untuk biaya pengobatan mata. Si gadis lalu kabur meninggalkan suami dan anaknya dan jadi pelacur di kota. Untuk lebih tragis lagi, sang anak tak mengakui ayahnya yang buruk rupa dan kabur menyusul ibunya. Celaka tampaknya tak kunjung reda. Sang anak hendak digagahi germo ibunya, meski gagal. Maka ganti ibunya yang disiksa dan diusir. Ibu-anak ini kemudian pulang ke desa. Sang ayah hanya mau menerima anaknya dan menolak istrinya. Mendengar penolakan itu sang istri buta kembali. Dan sang ayah pun menerimanya kembali.

Produser : Alex Dial
Sutradara : Dasri Yacob
Penulis : Dasri Yacob
Pemeran : Fadly, Debby Cynthia Dewi, Elvy Sukaesih, August Melasz, Dewi Indrawati
Produksi : PT Bola Mas Film (1977)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : indonesiancinematheque.blogspot.com


Irama Cinta (1980)

Film Irama Cinta Elvi Sukaesih
Sinopsis Film Irama Cinta
Kisah memeras air mata juga. Biduan top Elvi, punya kehidupan ganda: di panggung cemerlang, di rumah tidak bahagia karena suaminya terjerat judi dan terperangkap hasutan kawannya yang ingin mengeruk harta Elvi. Rumah dan hartanya akhirnya berpindah tangan. Elvi yang sangat mencintai suaminya, terguncang dan masuk rumah sakit jiwa. Sementara Farouk terlunta-lunta. Sang suami akhirnya minta maaf di pangkuan istrinya dan kembalilah mereka meniti hidup baru.

Produser : Sabirin Kasdani
Sutradara : Willy Wilianto
Penulis : Deddy Armand, Sjamsuddin
Pemeran : Elvy Sukaesih, Achmad Albar, Yatti Surachman, Farouk Afero, Marlia Hardi
Produksi : PT Rapi Film (1980)

sumber : filmindonesia.or.id
gambar : mmzbukuindah.blogspot.com


Bukit Perawan (1976)

film bukit perawan
Sinopsis Film Bukit Perawan
Tiga pendekar yang memiliki keahlian masing-masing menurunkan ilmunya pada Jaka Lelana (Sutrisno Wijaya). Setelah tiga tahun ia disuruh turun gunung dan sampai ke sebuah desa yang dikuasai oleh tuan tanah pemeras yang punya jagoan-jagoan hebat, termasuk di antaranya Teratai Hitam (Enny Christina), yang senang memperkosa pria. Ke desa itu muncul juga seorang jagoan yang ingin dianggap pesilat nomor satu di kolong langit. Jaka terpaksa menghadapi mereka semua ini untuk membela penduduk dan juga seorang gadis yang dipaksa kawin oleh anak tuan tanah. Setelah selesai, ia kembali berkelana.

Produser : Arwys Rangkuti
Sutradara : Ostian Mogalana
Penulis : Ostian Mogalana, Sutrisno Wijaya
Pemeran : Sutrisno Wijaya, Enny Christina, Liliek A Deliana, Sari Asmoro, Asep Suparman
Produksi :

sumber : filmindonesia.or.id

Aduh Aduh Mana Tahan (1980)

film aduh aduh mana tahan
Sinopsis Aduh Aduh Mana Tahan
Ini sebuah parade lagu-lagu dangdut. Pemain-pemainnya yang penyanyi dangdut sudah menyarankan hal itu. Apalagi tampil juga grup-grup dangdut dan sebuah festival dangdut. H. Imron melarang anaknya, Diana ikut-ikutan menyanyi dangdut, hingga seluruh kegiatannya di luar rumah dikawal ketat. Sementara itu, Itje, pembantu rumah tangga yang berbakat menyanyi dangdut, diajari oleh Diana. Dan ikut festival dangdut.

Produser : Hartono Hendra
Sutradara : Susilo SWD
Penulis : Imam Tantowi
Pemeran : Diana Yusuf, Itje Trisnawati, Darussalam, Netty Herawati, Titiek Nurniaty
Produksi : PT Akurama Film (1980)

sumber : filmindonesia.or.id

Jinak-Jinak Merpati (1975)

film Jinak jinak merpati
Sinopsis Film Jinak-Jinak Merpati
Kisah cinta segitiga. Dua kakak-beradik, Dimas (Sophan Sophiaan), pelukis, dan Anton (Fadly), kutu buku dan calon sarjana, jatuh cinta pada gadis yang sama, Amalia (Widyawati). Anton yang lebih dulu pacaran dengan Amalia, karena mereka teman kuliah. Sejak jumpa dengan Dimas, ternyata Amalia lebih memilih Dimas, karena merasa lebih cocok. Anton tentu marah, hingga Dimas-Amalia disidang dalam keluarga. Percekcokan kakak-adik berlangsung, sampai dari pembantu rumah, Pak Leman (Alam Surawidjaja), Dimas tahu bahwa dia bukanlah anak kandung, karenanya dia pergi jadi anak kapal. Lama tak pulang, Anton membantu menikahi Amalia yang sudah hamil. Dua tahun kemudian, Amalia akan menjumpai Dimas di pelabuhan. Dalam pertemuan Anton dan Dimas yang sudah mulai pacaran dengan teman lamanya yang jadi penyanyi, Nana (Meitry Wilda), dijelaskan duduk soalnya. Maka Anton berlari menemui Amalia dan anaknya. Pertemuan nyaris berlangsung, tapi Dimas tertimpa benda berat yang sedang diangkat ke kapal dan putus tali. Ia meninggal.

Produser : Washi Dipa
Sutradara : Sophan Sophiaan
Penulis : Teguh Karya, Singgih Budiono
Pemeran : Sophan Sophiaan, Fadly, Widyawati, Alam Surawidjaja, Meitry Wilda
Produksi : PT Dipa Jaya Film (1975)

sumber : filmindonesia.or.id


Rajawali Sakti (1976)

Film Jadul Rajawali Sakti
Sinopsis Film : Rajawali Sakti
irgantara Putra alias Tara (Johny Kokong) turun gunung meninggalkan guru yang mendewasakannya dan memberinya ilmu. Ia juga berniat mencari tahu siapa dirinya lewat potongan kalung yang dibawanya saat ia diselamatkan sang guru waktu kecil 20 tahun lalu. Di suatu desa ia bentrok dengan anak buah Mandar (WD Mochtar), tuan tanah kejam dan serakah. Mengetahui anak buahnya kalah oleh Tara, maka Mandar berniat mencari centeng baru yang lebih jago. Diadakanlah sayembara dengan pertarungan. Yang menang dijadikan centeng. Di saat terakhir Tara masuk arena. Ia berniat jadi centeng untuk mengetahui kalung yang dikenakan putri Mandar, Nila (Tina Juhara). Tara tak tahan dan lalu berbalik menentang Mandar ketika harus berbuat kejam terhadap Rasyid (Parto Tegal), yang dipaksa menyerahkan tanahnya. Rasyid dan istrinya meninggal, tapi anak perempuannya, Sari (Septia Rini) lolos, ditolong guru Tara dan dilatihnya. Tara sendiri ditangkap dan dikurung tanpa diberi makan.Nila kasihan dan menyuruh pembantu setianya (Supi Rachman), untuk memberi makan. Pada pembantu ini, Tara menyatakan ingin bertemu Nila untuk urusan kalung. Saat bertemu, berceritalah sang pembantu. Tara dan Nila masih beribu sama. Ayah Tara dibunuh Mandar, karena menginginkan ibu Tara, yang lalu dipaksa kawin dan melahirkan Nila. Habis bercerita, sang pembantu tewas dilempar golok Mandar. Tara tiba-tiba pulih kekuatannya dan mendobrak tembok kurungan. Pada saat bersamaan Sari datang membantu. Berdua mereka menghabisi anak buah Mandar, sebelum akhirnya berduel dengan Mandar, yang entah bagaimana terjadi di tepi pantai. Mandar tewas.
Dirgantara Putra alias Tara (Johny Kokong) turun gunung meninggalkan guru yang mendewasakannya dan memberinya ilmu. Ia juga berniat mencari tahu siapa dirinya lewat potongan kalung yang dibawanya saat ia diselamatkan sang guru waktu kecil 20 tahun lalu.

Di suatu desa ia bentrok dengan anak buah Mandar (WD Mochtar), tuan tanah kejam dan serakah. Mengetahui anak buahnya kalah oleh Tara, maka Mandar berniat mencari centeng baru yang lebih jago. Diadakanlah sayembara dengan pertarungan. Yang menang dijadikan centeng. Di saat terakhir Tara masuk arena. Ia berniat jadi centeng untuk mengetahui kalung yang dikenakan putri Mandar, Nila (Tina Juhara). Tara tak tahan dan lalu berbalik menentang Mandar ketika harus berbuat kejam terhadap Rasyid (Parto Tegal), yang dipaksa menyerahkan tanahnya. Rasyid dan istrinya meninggal, tapi anak perempuannya, Sari (Septia Rini) lolos, ditolong guru Tara dan dilatihnya. Tara sendiri ditangkap dan dikurung tanpa diberi makan.

Nila kasihan dan menyuruh pembantu setianya (Supi Rachman), untuk memberi makan. Pada pembantu ini, Tara menyatakan ingin bertemu Nila untuk urusan kalung. Saat bertemu, berceritalah sang pembantu. Tara dan Nila masih beribu sama. Ayah Tara dibunuh Mandar, karena menginginkan ibu Tara, yang lalu dipaksa kawin dan melahirkan Nila. Habis bercerita, sang pembantu tewas dilempar golok Mandar. Tara tiba-tiba pulih kekuatannya dan mendobrak tembok kurungan. Pada saat bersamaan Sari datang membantu. Berdua mereka menghabisi anak buah Mandar, sebelum akhirnya berduel dengan Mandar, yang entah bagaimana terjadi di tepi pantai. Mandar tewas.

Produser : Sugiri, S Soetrisno
Sutradara : Sisworo Gautama
Penulis : Darto Joned, Ganes TH
Pemeran : Johny Kokong, WD Mochtar, Tina Juhara, Parto Tegal, Septia Rini, Supi Rachman
Produksi : PT Surya Dirgantara Film & Penas Film Studio (1976)

sumber : filmindonesia.or.id